Cara Budidaya Jahe Gajah

jahe gajah

Cara budidaya jahe gajah – Jahe gajah( Zingiber officinale var. Roscoe) ialah salah satu klon jahe gajah yang dikembang di Indonesia. Jahe gajah banyak diburu oleh eksportit ataupun importir, tetapi ketersediaan jahe gajah sampai dikala ini masih terbatas. Usaha jahe gajah mempunyai keuntungan tertentu semacam penciptaan per hektar lebih besar dibanding penciptaan klon jahe gajah yang lain, harga rimpangnya lebih mahal, kesempatan pasar terbuka lebar baik dalam serta luar negara, serta pemasukan yang diterima lebih besar.

Cara Budidaya Jahe Gajah

jahe gajah

Jahe gajah bisa berkembang maksimal pada ketinggian 500- 950 mdpl, curah hujan besar( 2500- 3000 milimeter/ tahun), tipe tanah yang gembur buat memudahkan pertumbuhan rimpang, dan sinar matahari dari pagi sampai sore buat daya guna fotosintesis. Jahe gajah mempunyai rasa yang pedas serta sangat sesuai selaku bahan racikan obat- obatan pada industri farmasi, parfum, kosmetik serta sebagainya

Langkah Budidaya

Jahe disemai( meningkatkan tunas) terlebih dulu. Jahe diperam di tempat yang teduh serta lembab supaya persemaian lebih seragam, hendaknya dibungkus kain basah ataupun diletakkan hamparan jerami buat melindungi kelembaban area.

  1. Tunggu tunas sampai berkembang, tunas hendak timbul 1- 2 bulan sehabis penyemaian serta bila tunas telah ejauh 2- 3 centimeter hingga jahe gajah bisa ditanam dilahan.
  2. Sehabis jahe timbul tunas/ rimpang. Jahe bisa diperbanyak lewat setek rimpang ataupun memotong cocok dengan jumlah tunas yang berkembang.
  3. Siapkan media tanam berbentuk polybag ataupun benda sisa dengan media tanam tanah serta sekam. Tambahkan pupuk organik saat sebelum penanaman, pakai pupuk organik SAN dengan melarutkan SAN dalam air serta siramkan ke media tanam.
  4. Tanam serai dengan membuat lubang tanam sedalam dekat 5 centimeter sampai 10 centimeter kemudian ditimbun tanah sedalam 5 centimeter. Apabila Jahe ditanam diatas tanah hingga jarak tanam 60 centimeter x 60 cm
  5. Butuh dicermati letak tunas jahe menghadap ke atas supaya memudahkan perkembangan.
  6. Perawatan rimpang jahe dicoba dengan penyulaman sehabis 2- 3 minggu sehabis tumbuhan buat membenarkan rimpang yang hidup ataupun mati, penyiangan buat menjauhi persaingan faktor hara dengan gulma serta memencet jumlah hama/ penyakit yang menggunakan gulma selaku inang, pengairan lahan bisa dicoba secara manual ataupun menggunakan hujan yang turun.
  7. Jahe gajah bisa dipanen sehabis berumum 10- 12 bulan dengan metode memecahkan tanah secara hati- hati supaya tidak melukai rimpang memakai cangkul ataupun garpu.
  8. Panen jahe dengan ciri jahe meliputi pergantian warna daun dari hijau jadi kuning serta segala batang sudah mengering.
  9. Berikutnya, rimpang jahe gajah dinaikan serta dibersihkan dari kotoran tanah yang menempel dengan memakai air. Rimpang yang bersih kemudian dijemur diatas papan ataupun daun pisang sepanjang satu minggu.
  10. Rimpang yang kering kemudian ditaruh ditempat yang terbuka serta tidak lembap supaya tidak terjalin pertunasan. Jahe gajah bisa dimanfaatkan pada dikala masih muda( usia 3- 5 bulan), ataupun sehabis tua( 10- 12 bulan).

Pemupukan

Pemupukan jahe gajah bisa dicoba dengan memakai pupuk organik padat. Pupuk organik padat dibutuhkan sebab banyak memiliki N, P, K, S, serta Miligram yang bermanfaaat perbanyak anakan serta rimpang, sebaliknya kascing digunakan sebab memiliki faktor hara mikro serta hormon auksin buat merangsang perkembangan tumbuhan, paling utama dibagian pertunasan. Pemakaian pupuk organik cair pula disarankan buat menguatkan daun serta batang tumbuhan jahe sehingga proses fotosintesis berjalan mudah.

Apabila saat budidaya jahe gajah diganggu oleh OPT hingga bisa dicoba dengan pemakaian pestisida nabati berbahan dasar sirih yang memiliki antibiotik buat mengatur penyakit busuk rimpang. Tidak hanya pestisida nabati, abu dapur sebanyak 150 gr/ lubang tanam pula efisien dalam merendahkan keseriusan penyakit layu pada tumbuhan gajah serta memantapkan sel tumbuhan sebab memiliki P serta K.